Rabu, 23 April, 2014
POLA HUBUNGAN PATRONASE DI PONDOK PESANTREN;
Studi Kasus Terhadap Hubungan Kiai – Santri/Guru – Murid di Pondok Pesantren Futuhiyah Mranggen Demak

Oleh: Drs. H. Anasom, M.Hum
124 halaman
DEPARTEMEN AGAMA RI
IAIN WALISONGO SEMARANG 2005

 

Latar belakang penelitian ini berangkat dari kajian tentang patronase yang cukup menarik karena dapat menjelaskan berbagai hal dalam masyarakat. Kajian Patronase di Filipina dapat menerangkan, bahwa patronase dapat menjadi alat yang amat berharga untuk menjelaskan tidak adanya pemungutan suara berdasarkan kelas dan persekutuan antara “orang besar” dan “orang kecil’ yang menjadi ciri-ciri partai di Filipina.

Selain itu kompleksitas pengaruh ikatan patronase menjadi kian menarik apabila dilihat tidak hanya dalam hubungan ekonomi dan politik saja, tetapi juga aspek lain. Di Jawa pola hubungan tersebut juga diduga terjadi pada berbagai elemen masyarakat. Salah satu elemen masyarakat tersebut adalah pondok pesantren dengan masyarakatnya.

Penelitian tentang patronase di pesantren Futuhiyah pada masa kiai Muslih al-Maraqy bertujuan untuk pengembangan pondok pesantren, masyarakat dan ormas serta implikasinya terhadap pola hubungan patronase.

Hasil penelitian menyimpulkan bahwa sosok kiai Muslih al-Maraqy adalah kiai yang memiliki visi yang jelas, visi tersebut dikomunikasikan dalam bentuk nasehat-nasehat. Ia termasuk kiai yang suka bekerja dan memberi teladan daripada banyak bicara. Sebagaimana keteladanan yang ditunjukan oleh sang kiai, para murid, santri  masyarakat dan para pengikutnya mau bekerja keras untuk mengikuti sang kiai, bahkan pasa saat sang kiai meninggal dunia masih banyak hal yang tetap ditiru oleh para santri-santri dan pengikutnya. Kiai Muslih di mata para santri dan pengikutnya seperti manusia “setengah malaikat” karena itu perilaku, cara berpakaian dan cara bicara menjadi panutan yang tak tergantikan di lingkungan pesantren Futuhiyah dan sekitarnya.

Mencermati pola hubungan kiai-santri, di Pon-Pes Futuhiyah pada masa kiai Muslih, sebagai akibat kepemimpinan karismatik, tampak jelas bahwa antara kiai-santri terjadi pola hubungan patronase. Tetapi sangat berbeda dengan pola patronase dalam masyarakat agraris yang banyak melibatkan barang dan jasa berkait dengan pertanian, di pesantren lebih banyak melibatkan jasa ilmu pengetahuan. Dalam konteks ini sebenarnya patronase di pesantren merupakan patronase yang tidak seimbang.

Saran: Mengingat masih ada hal-hal yang mengambang yang belum terjawab dalam penelitian ini, seperti sejauhmana pola kepemimpinan tersebut memiliki akibat terhadap para pengikut dan santri serta hubungan ketaatan santri di pesantren dengan ketaatan model thoriqah. Untuk mengungkap data tersebut ada baiknya penelitian ke depan mengembangkan penelitian dengan pendekatan kuantitatif.***