Kamis, 24 Juli, 2014
NICHIREN SYOSYU INDONESIA (NSI) DI BATAM
Profil Yayasan Pandita Sabha Budha  Dharma Indonesia (YPSBDI)

Oleh: H. Muh. Nahar Nahrawi dan Eko Aliroso

2006

Sebagai bangsa yang menjemuk, baik agama, bahasa, etnis maupun budaya tentunya banyak permasalahan yang muncul kepermukaan. Diantara permasalahan yang sedang dihadapi bangsa ini ialah adanya ketidakharmonisan hubungan dalam masyarakat. Masalah ini antara lain disebabkan oleh beberapa faktor, seperti terdapatnya kesenjangan sosial, ekonomi, perbedaan faham keagamaan, budaya, serta perbedaan aspirasi politik. Keberbedaan faham keagamaan tersebut salah satunya adalah perbedaan doktrin keagamaan yang kadangkala menimbulkan gesekan-gesekan di masyarakat akibat konsep ajaran yang diimplementasikan secara berbeda.
Nichiren Syosyu muncul dan berkembang di Indonesia sejak tahun 1950 di mana beberapa orang jepang yang bekerja di Indonesia adalah penganut ajaran itu. Pada tanggal 28 Oktober 1964 dibentuklah wadah untuk melakukan aktifitas keagamaannya dengan nama Nichiren Syosyu Indonesia (NSI). Pada tahun 1971 Senosoenoto tampil menjadi pimpinan NSI sampai wafatnya tahun 1993. Perkembangan selanjutnya pada tanggal 1 Juni 1995 Yayasan Pandita Sabha Budha Dharma Indonesia ditunjuk oleh Sangha Kuil Pusat Nichiren Syosyu sebagai satu-satunya wadah penganut NSI serta diperkuat oleh Dirjen Bimas Hindu dan Budha  No. : H/BA.01.1/115/1/97 tertanggal 27 Januari 1997 perihal Yayasan Pandita Sabha Budha Dharma Indonesia (YPS BDI
Beberapa kesimpulan yang merupakan temuan penting yang perlu kami sampaikan sebagai berikut: 1). Nichiren Syosyu yang berkembang di Indonesia merupakan bagian agama Budha Mahayana melalui transmisi China dan Jepang. Mahayana yang dikenal moderat dan fleksibel tatkala masuk Jepang dari China menyerap unsur-unsur budaya dan kepercayaan lokal. Sekte Budha ini disebarkan oleh Nichiren Daisyonin yang mengakui dirinya dan dipercaya umatnya sebagai Budha masa akhir Dharma serta hanya mengakui Sadharmapundarika Sutra sebagai satu-satunya Sutra Agung yang paling unggul dari ribuan Sutra Kitab Suci Tripitaka; 2). Secara subtansial ajaran dan aktifitas Agama Buddha Nichiren Syosyu Indonesia di Batam tidaklah jauh berbeda dengan ajaran Budha Mahayana yang berkembang di Indonesia terutama dalam menerima ajaran Triratna (Budha, Dharma dan Shangha), ajaran karma (hukum sebab akibat, rebirth) dan humanisme.
Penelitian ini merekomendasikan kepada segenap kelompok dan pengurus berbagai aliran dalam agama Budha Mahayana sekte Nichiren Syosyu Indonesia diminta untuk duduk bersama dan berdialog untuk saling menghormati dan menghargai perbedaan paham dan keyakinan agar tidak terjadi konflik interest atau konflik horizontal, penyelarasan secara hukum bukanlah akhir pertentangan tetapi merupakan awal untuk berdamai dan bersaudara sesama umat Budha Nichiren Syosyu di Indonesia.***